Diduga Lalai, PBVSI Depok Beri Sanksi Pelatih dan Bakal Bekukan Klub Voli

Diduga Lalai, PBVSI Depok Beri Sanksi Pelatih dan Bakal Bekukan Klub Voli
Ketua PBVSI kota Depok, Satya Wiryawan, didampingi Sekum, Indra Bitek, saat terkonfirmasi di kegiatan seleksi atlet voli tingkat pelajar Putri, Sabtu, Jatimulya, Cilodong, (26/4). (dok. Star7Tv/foto edit, Roni)

DEPOK | Star7Tv – Pengurus Cabang (Pengcab) PBVSI Kota Depok akhirnya menunjukkan sikap tanpa kompromi atas mencuatnya dugaan pelecehan yang melibatkan pelatih voli binaan PBVSI Depok.

Tak hanya menonaktifkan pelatih, Pengcab PBVSI Depok juga membuka kemungkinan sanksi paling keras, dari pencabutan sertifikat hingga pembekuan izin klub jika terbukti ada pelanggaran serius dan upaya penutupan informasi.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kota Depok, Satya Wiryawan, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam menghadapi kasus yang mencoreng dunia olahraga tersebut. Ia menyebut, langkah tegas diambil setelah fakta di lapangan menunjukkan adanya keterlambatan informasi yang justru berasal dari internal klub.

Satya mengungkapkan, pihaknya baru mengetahui kasus tersebut dari PBVSI Jawa Barat pada 8 April 2026. Setelah dilakukan penelusuran, terungkap bahwa dugaan peristiwa itu telah terjadi sejak Januari, namun tidak pernah dilaporkan secara resmi.

“Kami tidak menerima laporan apa pun sebelumnya. Ini yang menjadi persoalan besar. Jangan sampai ada yang sengaja menutup-nutupi,” tegasnya saat membuka seleksi Popwilda di Jatimulya, Cilodong (25/04/2026).

Sebagai respons cepat, Pengcab PBVSI Depok langsung menindaklanjuti keputusan provinsi yang menonaktifkan sementara pelatih tersebut. Larangan total diberlakukan agar yang bersangkutan tidak lagi terlibat dalam aktivitas kepelatihan di wilayah Jawa Barat.

“Statusnya nonaktif total. Tidak boleh melatih sampai ada putusan hukum tetap,” ujarnya.

Lebih jauh, Satya menolak keras tudingan bahwa organisasinya lalai. Ia justru menyoroti kemungkinan adanya pihak yang tidak transparan sehingga kasus ini terlambat terungkap.

“Ini bukan kelalaian kami. Justru kami patut mempertanyakan kenapa tidak ada laporan sejak awal. Kalau ada yang sengaja diam, itu masalah serius,” katanya dengan nada tinggi.

Ia juga mengaku terkejut saat mengetahui adanya lebih dari satu korban. Menurutnya, jika informasi tersebut benar dan tidak dilaporkan, maka hal itu berpotensi menjadi pelanggaran berat dalam sistem pembinaan atlet.

“Kami tidak tahu sama sekali. Kalau memang ada lebih dari satu korban dan tidak disampaikan, ini tidak bisa ditoleransi,” ujarnya.

Pengcab PBVSI Depok kini tengah menyiapkan langkah evaluasi menyeluruh terhadap klub-klub yang berada di bawah naungannya. Pengawasan akan diperketat, dan sanksi tegas siap dijatuhkan bagi pihak yang terbukti melanggar aturan.

Satya menegaskan, jika proses hukum membuktikan adanya pelanggaran, maka tidak akan ada ruang kompromi.

“Kami akan bertindak maksimal. Sertifikat pelatih bisa dicabut, bahkan izin klub bisa kami bekukan. Ini peringatan keras untuk semua,” tegasnya.

Ia menutup dengan menekankan pentingnya keterbukaan dalam setiap persoalan, terutama yang menyangkut keselamatan atlet.

“Jangan pernah coba-coba menutup kasus. Keselamatan atlet adalah prioritas utama. Siapa pun yang melanggar, akan kami tindak tegas,” pungkasnya. (Tim)

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP