Bukan Sekadar Tangkap Ikan, Ini Filosofi Besar di Balik Ngubek Empang

Bukan Sekadar Tangkap Ikan, Ini Filosofi Besar di Balik Ngubek Empang
Pic tradisi 'Ngubek empang', yang hingga kini merupakan tradisi turun temurun, sekaligus sebagai perayaan dalam meramaikan rangkaian Lebaran Depok 2026. (dok. Star7Tv/foto edit, Roni)

DEPOK | Star7Tv – Tradisi ngubek empang kembali menjadi idola dalam rangkaian Lebaran Depok. Lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan di kolam berlumpur, tradisi ini menyimpan filosofi mendalam tentang kebersamaan, gotong royong, dan semangat berbagi yang telah diwariskan turun-temurun.

Penting diketahui, sejatinya tradisi setiap menjelang Lebaran, warga berbondong-bondong turun ke empang untuk menangkap ikan dengan tangan kosong. Tawa, canda, dan kebersamaan tercipta di tengah lumpur, menghadirkan suasana hangat yang kini mulai jarang ditemui di kehidupan modern.

Mengingat pentingnya hal tersebut, Ketua Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD), Ahmad Dahlan, menjelaskan bahwa tradisi ini berasal dari kebiasaan masyarakat tempo dulu yang hidup sederhana namun menjunjung tinggi kebersamaan.

“Masyarakat dulu urunan membeli ikan, dipelihara bersama, lalu dipanen saat Lebaran. Itu menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur,” ujarnya, dilansir sumber info kebudayaan Depok.

Menambahkan soal Ngubek Empang, Ketua Panitia Lebaran Depok 2026, Hamzah, menegaskan bahwa makna ngubek empang jauh melampaui kegiatan menangkap ikan semata.

“Ngubek empang bukan hanya soal menangkap ikan, tetapi bagaimana masyarakat dulu membangun kebersamaan, gotong royong, dan semangat berbagi menjelang Lebaran,” ujarnya, seperti dikutip idrtdy, Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, tradisi ini dipersiapkan dengan penuh kesabaran. Bahkan, prosesnya sudah dimulai sejak satu tahun sebelumnya dengan menebar benih ikan di empang.

“Ketika waktu panen tiba menjelang Idulfitri, seluruh warga terlibat, mulai dari mengeringkan empang hingga menangkap ikan bersama-sama. Di situlah nilai kebersamaan itu terasa,” jelasnya.

Ia menambahkan, menurut filosofi utama yang ingin terus dihidupkan adalah solidaritas sosial di tengah masyarakat yang semakin individualistis.

“Filosofi yang ingin kita hidupkan kembali adalah kebersamaan dan solidaritas. Ini warisan budaya yang harus terus dikenalkan ke generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman,” tambahnya.

Senada, Ketua Dewan Kebudayaan Depok, Awaluddin Faj, menilai ngubek empang sebagai identitas budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung nilai edukatif bagi generasi muda.

Sebagai informasi, Pemerintah Kota (Pemkot), Depok di bawah kepemimpinan Supian Suri, melalui kepanitiaan yang diketuai oleh, H. Hamzah, turut mengangkat kembali tradisi ini sebagai bagian dari rangkaian agenda tahunan Lebaran Depok, yang akan digelar pada, 5-9 April, 2026.

Kini, ngubek empang bukan hanya menjadi milik warga lokal, tetapi juga berkembang sebagai daya tarik budaya. Meski demikian, nilai utamanya tetap terjaga: kebersamaan, kerja keras, dan rasa syukur.

Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan individualistis, ngubek empang menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati sering kali lahir dari hal-hal sederhana, berkumpul, berbagi, dan merayakan hasil bersama. (RN)

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP