Pardi Dongkal Alias Pardong Bakal Ungkap Sisi Humanis Aktivisme di Buku Antologi

Pardi Dongkal Alias Pardong Bakal Ungkap Sisi Humanis Aktivisme di Buku Antologi
Pardong (kanan), saat foto berdua dengan Wali kota Depok, H. Supian Suri, di momen santai ngopi bareng. (dok. IST, foto Roni)

DEPOK | Star7Tv – Pardi nama asli Pardong yang dikenal seorang aktivis Depok sekaligus Ketua Serikat Petani Depok yang juga Koordinator Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) Kota Depok, kembali menunjukkan sisi lain yang jarang tersorot. Di tengah kesibukannya dalam advokasi dan gerakan sosial, Pardong ternyata memiliki kedalaman rasa dalam dunia sastra, khususnya puisi.

Dalam waktu dekat, kumpulan puisi karya Pardong direncanakan akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh sebuah penerbit. Karya-karya tersebut merupakan hasil perenungan panjang yang ditulis sejak era 1990-an hingga beberapa tahun terakhir.

“Iya, saat ini sedang dikumpulkan. Banyak juga yang sudah hilang, tapi yang tersisa lebih dari 100 puisi. Mudah-mudahan segera bisa dibukukan,” ujar Pardong, Senin (13/4/2026).

Puisi-puisi yang ditulisnya mengangkat beragam tema, mulai dari refleksi spiritual, kritik sosial, cinta, hingga kepedulian terhadap lingkungan. Dalam puisinya berjudul “Cilamaya”, Pardong menggambarkan perubahan alam yang dulunya asri menjadi tercemar akibat ulah manusia, sebuah kritik halus namun tajam terhadap kerusakan lingkungan.

Sementara itu, dalam “Ikhwatafillah”, nuansa religius terasa kuat dengan ajakan untuk tetap menjaga ketaatan di luar momentum bulan suci. Di sisi lain, puisi seperti “Rindu” dan “Cinta” menghadirkan ungkapan perasaan yang lebih personal dan kontemplatif, memperlihatkan sisi humanis seorang aktivis yang kerap bergelut dengan isu-isu sosial.

Menariknya, gaya bahasa yang digunakan Pardong cenderung lugas namun sarat makna. Ia mampu memadukan pengalaman hidup dengan refleksi batin yang mendalam. Karya-karyanya tidak hanya menjadi media ekspresi, tetapi juga ruang dialog antara realitas sosial dan nilai-nilai spiritual.

Rencana penerbitan buku puisi ini pun mendapat sambutan positif dari masyarakat. Selain memperkaya khazanah literasi lokal, kehadiran karya tersebut diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih berani mengekspresikan gagasan melalui tulisan.

Dengan latar belakang sebagai aktivis, kehadiran buku puisi Pardong menjadi bukti bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan di lapangan, tetapi juga bisa dituangkan melalui rangkaian kata yang menyentuh dan menggugah kesadaran.

Melalui antologi puisinya, Pardong seakan mengajak pembaca untuk merenung, bahwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan, selalu ada ruang sunyi tempat nilai, cinta, dan harapan tumbuh dalam bait-bait sederhana yang penuh makna.

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP