Edi Masturo Minta Pemkot Depok Perkuat Mitigasi Bencana di Tengah Puncak Musim Hujan

Edi Masturo Minta Pemkot Depok Perkuat Mitigasi Bencana di Tengah Puncak Musim Hujan
Ketua Fraksi Gerindra F-DPRD Depok, H. Edi Masturo, saat foto bersama dengan Wali kota Depok, H. Supian Suri, saat momen spesial. (dok. Star7Tv)

DEPOK | Star7Tv – Merebaknya isu kerawanan bencana yang ramai di media sosial mendapat respons tegas dari Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Depok sekaligus anggota Komisi A, Edi Masturo. Ia menekankan bahwa mitigasi bencana harus menjadi prioritas utama Pemkot Depok, mengingat kerentanan wilayah yang terus berulang setiap tahun.

Edi menjelaskan bahwa Depok memiliki potensi ancaman bencana yang patut diwaspadai, mulai dari banjir, genangan, longsor di sejumlah titik, hingga pohon tumbang saat cuaca ekstrem.

“Secara umum, Kota Depok memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi, sehingga perlu kesiapsiagaan menyeluruh,” ujarnya pada Senin (8/12).

Ia menyebutkan, meski Pemkot dan BPBD telah menyusun peta kerawanan bencana, dokumen itu harus benar-benar menjadi acuan dalam kebijakan pembangunan, bukan sekadar formalitas. “Peta kerawanan bencana harus menjadi dasar prioritas pembangunan dan mitigasi risiko,” tegasnya.

Dalam upaya mendorong koordinasi lintas instansi, Edi menilai salah satu kelemahan mitigasi selama ini adalah belum optimalnya koordinasi antarinstansi. Karena itu, Komisi A terus mendorong penguatan pola kerja lintas sektor.

“Koordinasi berjenjang dan sistem komando yang jelas sangat penting agar respons kebencanaan cepat dan terkoordinasi hingga tingkat RT/RW,” jelasnya.

Mengingat titik rawan belum ditangani maksimal, dengan cermat Edi mengungkapkan, memasuki puncak musim hujan, Ia mengakui kesiapan Pemkot meningkat, namun belum ideal. Masih ada titik rawan banjir, genangan, longsor, serta pohon tumbang yang harus mendapatkan penanganan serius.

Ia menegaskan, pembersihan drainase, pengerukan sedimentasi, dan pemangkasan pohon rawan tumbang harus dilakukan berkala, bukan menunggu bencana terjadi.

Tak hanya itu, untuk perkuat sistem peringatan dini, Komisi A juga mendorong Pemkot untuk memaksimalkan sistem peringatan dini berbasis teknologi, mulai dari sirine peringatan, SMS blast, hingga integrasi dengan aplikasi layanan darurat. Selain itu, alat pemantau tinggi muka air di titik rawan harus diperbanyak.

Adapun peran masyarakat jadi kunci,
menurut Edi, keberhasilan mitigasi sangat bergantung pada partisipasi warga. Edukasi kebencanaan di sekolah, kampung siaga bencana, dan pelatihan relawan harus terus diperkuat.

“Masyarakat tidak boleh hanya menjadi objek, tetapi menjadi subjek utama mitigasi,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan warga untuk tetap waspada, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera melaporkan potensi bahaya di sekitar mereka. “Mitigasi hanya akan berhasil jika dijalankan bersama. Dengan kesiapsiagaan kolektif, risiko bencana dapat ditekan secara signifikan,” tutupnya. (RN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *