DEPOK | Star7Tv – Momentum Hari Buruh 1 Mei 2026 menjadi refleksi mendalam bagi Iwan Setiawan. Ia mengenang pengalaman perjuangannya bersama ribuan buruh yang pernah menggelar aksi besar dari kawasan industri Leuwi Gajah hingga Cimindi, berakhir di Gedung Sate, Bandung.
Kala itu, sekitar tahun 2003, Iwan masih aktif sebagai kader PMII UIN Bandung. Bersama elemen buruh dan mahasiswa, ia terlibat langsung dalam mengonsolidasikan gerakan untuk menuntut hak-hak dasar pekerja, mulai dari cuti hamil, upah layak, hingga fasilitas kerja yang manusiawi.
“Perjuangan buruh bukan sekadar aksi turun ke jalan. Ini tentang membangun kesadaran kolektif bahwa memperjuangkan buruh sejatinya memperjuangkan diri kita sendiri,” ungkap Iwan, (2/5).
Menurutnya, proses menuju aksi besar tersebut tidak instan. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dihabiskan untuk diskusi kecil, kajian jalanan, hingga membangun kesadaran bersama bahwa buruh harus memimpin perjuangannya sendiri.
Puncaknya, puluhan ribu buruh dari berbagai pabrik di wilayah Leuwi Gajah hingga Cimindi bergerak bersama. Sekitar 20 ribu massa berjalan kaki dari pabrik ke pabrik, menyatukan barisan menuju Gedung Sate sebagai simbol pusat kekuasaan.
Aksi tersebut tidak berjalan mulus. Dalam perjalanan, terjadi berbagai insiden dengan aparat keamanan yang berujung pada penangkapan sekitar 40 buruh dan 2 mahasiswa.
Iwan masih mengingat dua rekannya yang turut ditangkap saat itu. Salah satunya, JS, yang kini telah wafat.
“Untukmu, kawan… Al-Fatihah. Perjuanganmu tidak akan pernah kami lupakan,” ucapnya dengan nada haru.
Bagi Iwan, lawan utama buruh bukanlah individu, melainkan kebijakan yang tidak berpihak, yang sering kali lahir dari kepentingan pengusaha dan pemerintah tanpa melibatkan suara pekerja.
Di Hari Buruh 2026 ini, ia kembali menegaskan semangat solidaritas yang dulu menggema di jalanan.
“Buruh bersatu tak bisa dikalahkan. Semangat itu harus terus hidup, karena perjuangan belum selesai,” tutupnya. (RN)











