DEPOK | Star7Tv – Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, menegaskan bahwa Musyawarah Daerah (MUSDA) Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kota Depok bukan sekadar agenda konsolidasi organisasi, melainkan momentum refleksi dan kebangkitan koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan.
Hal tersebut disampaikan Chandra saat menghadiri MUSDA dengan tema “Transformasi Digital adalah Kunci Koperasi Maju”, sekaligus pemilihan Ketua Dekopinda Kota Depok masa bakti 2025–2030 yang berlangsung di Aula Bank BJB Kantor Cabang Depok, Kamis (22/1/2026).
Dalam sambutannya, Chandra mengulas kembali amanat Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa perekonomian disusun berdasarkan asas kekeluargaan. Menurutnya, koperasi sejatinya adalah bentuk nyata demokrasi ekonomi yang hingga kini masih relevan, meskipun sistem ekonomi modern terus berkembang dan diperdebatkan.
“Koperasi adalah pilihan demokrasi ekonomi. Namun kita harus jujur, tantangan ke depan masih besar. Dampaknya memang sudah terlihat, angka kemiskinan di Depok berada di kisaran 2 persen, tapi koperasi harus bisa memberi kontribusi yang lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Chandra.
Ia menekankan pentingnya revitalisasi koperasi secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas. Tata kelola yang baik, kepatuhan terhadap Rapat Anggota Tahunan (RAT), serta manfaat usaha yang benar-benar dirasakan anggota menjadi indikator utama koperasi yang sehat.
“Koperasi harus dibenahi dari dalam. Jangan hanya banyak di atas kertas, tapi tidak aktif. Kualitas, transparansi, dan manfaat bagi anggota adalah kunci,” tegasnya.
Chandra menilai MUSDA Dekopinda menjadi momentum strategis untuk mengevaluasi kinerja kepengurusan sebelumnya sekaligus menyusun arah kebijakan koperasi lima tahun ke depan agar lebih relevan dengan dinamika ekonomi perkotaan. Ia berharap kepengurusan baru mampu mengonsolidasikan koperasi yang aktif dan menghidupkan kembali koperasi yang belum berjalan optimal.
Selain itu, Wakil Wali Kota Depok juga menekankan pentingnya kolaborasi antarkoperasi. Ia mendorong agar koperasi Merah Putih dirangkul dan menjadi bagian dari Dekopinda, bukan diposisikan sebagai pihak yang saling berseberangan.
“Koperasi harus saling menguatkan. Koperasi Merah Putih harus menjadi bagian dari ekosistem Dekopinda. Jika bersatu, koperasi akan semakin besar dan berdaya,” katanya.
Isu regenerasi menjadi sorotan utama Chandra. Ia menilai keberlangsungan koperasi sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Dengan bonus demografi yang dimiliki Kota Depok, koperasi harus mampu menarik minat milenial dan Generasi Z melalui pendekatan yang lebih modern dan inklusif.
“Kalau koperasi tidak menarik bagi anak muda, maka koperasi akan ditinggalkan. Anak muda harus diberi ruang, dilibatkan, dan dipercaya, baik sebagai anggota maupun pengelola,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa koperasi perkotaan harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Digitalisasi, transparansi, serta inovasi model usaha dinilai menjadi keharusan agar koperasi tetap kompetitif di tengah pesatnya pertumbuhan sektor usaha modern.
“Koperasi tidak boleh bertahan dengan cara lama. Harus adaptif, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat urban yang serba cepat,” tambahnya.
Chandra memastikan Pemerintah Kota Depok berkomitmen mendukung penguatan koperasi melalui program pembinaan, pendampingan, dan sinergi kebijakan. Dukungan tersebut diarahkan agar koperasi mampu berkontribusi nyata dalam pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi lokal.
Ia juga menginginkan, melalui MUSDA Dekopinda Kota Depok 2025–2030, diharapkan lahir kepengurusan baru yang solid, berintegritas, dan visioner, sekaligus memperkuat peran Dekopinda sebagai penggerak dan penjaga kualitas koperasi di daerah.
“Harapan kami, koperasi di Depok tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh menjadi koperasi perkotaan yang modern, sehat, inklusif, dan kolaboratif, serta menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan,” pungkas Chandra. (RN)






