Pradi Supriatna: Depok Bukan Kota Intoleran, Negara Hadir di Gereja

Pradi Supriatna: Depok Bukan Kota Intoleran, Negara Hadir di Gereja
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Komisi I dari Partai Gerindra, saat terkonfirmasi usai Ngaji Hikam di kediaman Wali kota Depok, Supian Suri, Jumat, (26/12). (dok. Star7Tv/foto, Roni)

DEPOK | Star7Tv – Anggota DPRD Komisi I Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Pradi Supriatna, menegaskan bahwa stigma Kota Depok sebagai kota intoleran sudah tidak relevan dan harus dihentikan. Penegasan ini disampaikannya saat mengapresiasi langkah tegas dan terbuka Wali Kota Depok yang turun langsung bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) meninjau pelaksanaan ibadah Natal di sejumlah gereja.

Menurut Pradi, kehadiran Wali Kota Depok di tengah umat Kristiani bukan sekadar kunjungan simbolik, melainkan pernyataan politik kebangsaan yang jelas: negara hadir, melindungi, dan berdiri setara untuk semua warga tanpa memandang agama.

“Kehadiran wali kota di gereja adalah pesan bahwa Depok milik semua, bukan milik satu golongan,” ujar Pradi, usai pengajian Hikam, di kediaman Wali kota, Jumat, (26/12).

Ia menilai, sejak awal masa kepemimpinannya, Wali Kota Depok telah menunjukkan jiwa nasionalisme dan keberanian moral untuk berdiri di atas semua identitas. Sikap tersebut, kata Pradi, penting untuk mematahkan narasi lama yang kerap menyudutkan Depok.

“Dari awal kami mendorong agar wali kota benar-benar menjadi pemimpin bagi seluruh warga. Dan hari ini, itu dibuktikan langsung di lapangan,” tegasnya.

Pradi juga menekankan bahwa kehadiran Forkopimda dalam kunjungan tersebut memperlihatkan keseriusan negara dalam menjamin kebebasan beragama. Negara tidak hanya hadir lewat regulasi, tetapi juga melalui tindakan nyata yang memberi rasa aman.

“Di hadapan pemimpin daerah, semua warga sama. Tidak boleh ada warga yang merasa takut atau terpinggirkan karena keyakinannya,” kata Pradi.

Selama bertahun-tahun, Depok kerap dicap sebagai kota intoleran akibat sejumlah kasus yang digeneralisasi dan dibingkai secara sepihak di ruang publik. Pradi menilai stigma tersebut lahir dari narasi sempit yang mengabaikan fakta bahwa masyarakat Depok hidup dalam keberagaman dan terus berupaya menjaga kerukunan.

“Tidak adil menilai satu kota dari potongan peristiwa. Yang harus dilihat adalah komitmen dan keberanian pemimpinnya dalam merawat kebhinekaan,” ujarnya.

Dalam konteks itu, kunjungan Wali Kota Depok ke gereja saat Natal dinilai sebagai jawaban paling konkret atas keraguan publik dan tudingan intoleransi.

“Dengan sikap seperti ini, saya tegaskan: Depok bukan kota intoleran. Justru ini contoh kepemimpinan inklusif yang seharusnya ditiru,” tegas Pradi.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan ibadah Natal berlangsung aman, tertib, dan kondusif. Namun lebih dari itu, langkah tersebut dinilai sebagai upaya strategis merawat harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Pradi secara khusus menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Wali Kota Depok atas keberanian turun langsung ke lapangan.

“Terima kasih kepada Pak Wali Kota yang mau hadir bersama saudara-saudara kita yang sedang beribadah. Ini pesan persatuan yang kuat dan sangat dibutuhkan,” ungkapnya.

Ia berharap, sikap inklusif tersebut tidak berhenti pada momentum Natal, tetapi menjadi karakter tetap dalam setiap kebijakan dan tindakan pemerintah daerah.

“Jika toleransi, kesetaraan, dan keadilan dijadikan prinsip utama, Depok bukan hanya matang secara demokrasi, tetapi juga bisa menjadi contoh kota harmonis di Jawa Barat,” pungkas Pradi. (RN)

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


PAGE TOP