Di Balik Gemerlap “Lebak Ruhay”: Kisah Pilu Ibu Rukiyah, Menanti Uluran Tangan di Tengah Kemiskinan yang Menghimpit
Lebak, Banten Star7tv.com.10, Nopember, 2025. Di jantung Kabupaten Lebak, di mana slogan “Lebak Ruhay” seharusnya menjadi denyut nadi kesejahteraan, sebuah kisah pilu terukir dalam gubuk reot yang nyaris ambruk. Di sanalah, hanya sepelemparan batu dari kemegahan Kantor Bupati dan DPRD, Ibu Rukiyah dan enam anaknya berjuang untuk bertahan hidup, melawan kemiskinan yang mengimpit dan harapan yang nyaris padam. Kontras yang mencolok ini bukan hanya mengundang keprihatinan mendalam, tetapi juga mempertanyakan makna “Lebak Ruhay” yang selama ini didengungkan. Forum Warga Bersatu (Forwatu) Banten pun hadir sebagai oase di tengah gurun keputusasaan, menyuarakan kritik pedas dan memberikan uluran tangan yang penuh arti.
Rumah yang lebih pantas disebut sebagai penjara kemiskinan ini, dengan dinding yang mengelupas dan atap yang bocor di sana-sini, telah menjadi saksi bisu perjuangan Ibu Rukiyah dan keluarganya selama hampir satu dekade. Di dalamnya, ruang gerak terasa begitu sempit, udara pengap dan lembap menusuk paru-paru, dan aroma kemiskinan begitu menyengat. Suami Ibu Rukiyah, dengan semangat yang tak pernah padam, mencari nafkah sebagai pemulung di wilayah Rangkasbitung, mengumpulkan sampah demi sesuap nasi untuk keluarganya. Sementara itu, salah satu dari enam anaknya berjuang melawan belenggu gangguan jiwa, terkurung di dapur sempit yang gelap dan sunyi.
Pemandangan yang menghancurkan hati ini membuat hati nurani anggota Forwatu Banten bergetar. Pada peringatan Hari Pahlawan Nasional, Senin (10/11/2025), mereka memutuskan untuk turun langsung memberikan bantuan sosial, bukan hanya sebagai bentuk kepedulian, tetapi juga sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan yang terjadi di depan mata.
Presidium Forwatu Banten, Arwan, S.Pd., M.Si., dengan nada suara yang bergetar, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah daerah yang selama ini terkesan menutup mata terhadap penderitaan warganya.
“Kami datang bukan hanya membawa bantuan, tapi membawa pesan yang sangat penting: ‘Lebak Ruhay’ tidak boleh hanya menjadi slogan kosong yang terpampang di baliho-baliho mewah. ‘Lebak Ruhay’ harus dirasakan oleh seluruh warga, termasuk Ibu Rukiyah dan keluarganya yang hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan ini,” tegas Arwan, S.Pd., M.Si., dengan nada penuh emosi.
Dalam kunjungan tersebut, Forwatu Banten memberikan bantuan sembako, pakaian layak pakai, dan sejumlah uang tunai sebagai bentuk kepedulian awal. Namun, Arwan menekankan bahwa bantuan ini hanyalah setetes air di tengah lautan kemiskinan, dan dibutuhkan solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk mengangkat derajat Ibu Rukiyah dan keluarga.
“Kami tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Kami membutuhkan dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah daerah, pengusaha, tokoh masyarakat, dan seluruh warga Lebak yang memiliki kepedulian terhadap sesama. Mari kita bersatu padu untuk mewujudkan ‘Lebak Ruhay’ yang sesungguhnya, di mana tidak ada lagi warga yang hidup dalam kemiskinan dan keterlantaran,” serunya dengan nada penuh harapan.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Sosial Kemasyarakatan Forwatu Banten, Gatot Supriono, menyampaikan bahwa pihaknya akan terus mengawal kasus ini dan memastikan bahwa pemerintah daerah memberikan perhatian yang serius terhadap kondisi Ibu Rukiyah dan keluarga.
“Kami akan membuat laporan resmi dan surat permohonan kepada kelurahan, kecamatan, hingga Baznas atau Kesra Kabupaten Lebak. Kami akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk mencari solusi yang terbaik bagi Ibu Rukiyah dan keluarga. Kami tidak akan menyerah sampai mereka mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan sejahtera,” tegas Gatot, menunjukkan komitmennya untuk terus berjuang demi keadilan sosial.
Kegiatan sosial itu ditutup dengan penyerahan bantuan secara simbolis oleh Bendahara Forwatu Banten, disambut dengan air mata haru dan senyum penuh harapan dari Ibu Rukiyah.
“Terima kasih banyak Bapak-bapak dari Forwatu Banten. Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak-bapak semua. Saya berharap pemerintah juga bisa melihat penderitaan kami dan membantu memperbaiki rumah kami yang sudah mau roboh ini,” ucapnya dengan suara lirih, mencerminkan harapan yang kembali menyala di hatinya.
Kisah pilu Ibu Rukiyah ini adalah potret buram dari ketimpangan sosial yang masih menghantui Kabupaten Lebak. Di balik gemerlap pembangunan dan slogan “Lebak Ruhay” yang membahana, masih ada warga yang hidup dalam kemiskinan yang mengimpit, menanti uluran tangan dari sesama. Mari kita jadikan kisah Ibu Rukiyah ini sebagai momentum untuk merenungkan kembali makna pembangunan yang sesungguhnya, dan untuk bergerak bersama mewujudkan Lebak yang lebih adil, sejahtera, dan berpihak kepada seluruh warganya. Akankah kita membiarkan Ibu Rukiyah dan keluarganya terus berjuang sendirian di tengah kemiskinan yang mengimpit, ataukah kita akan bersatu padu untuk memberikan mereka harapan dan kehidupan yang lebih baik? Pilihan ada di tangan kita.
Adi kurniawan
