Qonita Lutfiyah: Hari Santri Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Momentum Menjaga Spirit Perjuangan

Qonita Lutfiyah: Hari Santri Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Momentum Menjaga Spirit Perjuangan
Pic Anggota DPRD Depok yang juga Ketua BKD, sekaligus Wasekjen DPP Partai PPP, Hj. Qonita Lutfiyah.

DEPOK | Star7Tv – Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Qonita Lutfiyah, menegaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional bukanlah seremoni tahunan semata. Lebih dari itu, Hari Santri menjadi momen bersejarah untuk mengenang peran besar santri dan ulama dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan.

Menurut Qonita, lahirnya hari Santri tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Seruan tersebut menjadi titik balik semangat perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih.

“Resolusi Jihad merupakan panggilan kepada umat Islam, khususnya para santri, untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman pasukan kolonial yang datang kembali bersama Sekutu,” jelas Qonita, Selasa (21/10).

Seruan itu, kemudian memicu semangat rakyat di berbagai daerah dan berpuncak pada Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kini dikenang sebagai simbol heroisme bangsa. Dari sanalah, kata Qonita, lahir kesadaran nasional bahwa santri dan pesantren memiliki peran besar dalam menjaga keutuhan NKRI.

“Hari Santri adalah pengingat bahwa kemerdekaan kita lahir dari perjuangan para ulama dan santri. Resolusi Jihad adalah warisan berharga yang harus kita jaga dengan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa,” tegasnya.

Mengenai Santri sebagai pengawal peradaban, dengan cermat Qonita menceritakankan penetapan Hari Santri secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo merupakan bentuk penghargaan negara terhadap peran penting santri dalam sejarah bangsa.

Tahun ini, Hari Santri mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menjemput Peradaban Dunia.” Tema tersebut, menurut Qonita, menggambarkan tekad santri untuk terus berperan aktif dalam menjaga kemerdekaan sekaligus menghadapi tantangan global dengan ilmu, akhlak, dan iman yang kokoh.

“Santri saat ini tidak hanya menjaga kedaulatan bangsa, tapi juga harus siap menjadi bagian dari peradaban dunia melalui kontribusi nyata di bidang ilmu pengetahuan dan moralitas,” ujarnya penuh semangat.

Semangat Santri, semangat PPP
Qonita juga menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan santri sejalan dengan semangat Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sejak berdiri, PPP selalu menempatkan nilai-nilai pesantren sebagai fondasi moral perjuangan politiknya.

“PPP lahir dari semangat umat dan pesantren. Maka semangat Hari Santri adalah semangat PPP untuk terus mengawal keutuhan bangsa dan kesejahteraan umat,” tuturnya.

Jihad zaman kini, Ilmu dan pengabdian
lebih jauh, Qonita menegaskan bahwa jihad masa kini bukan lagi perjuangan bersenjata, melainkan jihad dalam bidang pendidikan, sosial, dan intelektual. Ia mengajak seluruh santri dan masyarakat untuk memaknai hari Santri sebagai refleksi dan motivasi membangun bangsa.

“Hari Santri bukan sekadar simbol atau nostalgia sejarah. Ini adalah momentum memperbaiki diri, memperkuat persatuan, dan menjadi pelopor perubahan menuju kemaslahatan,” kata Qonita.

Iapun berharap, warisan resolusi Jihad untuk masa depan, hal tersebut disampaikan
menutup pernyataannya, Qonita mengajak seluruh kader PPP dan masyarakat luas untuk memanfaatkan Hari Santri sebagai ajang memperkuat sinergi antara agama, pendidikan, dan kebangsaan.

“Resolusi Jihad bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk diteruskan spiritnya, demi membangun Indonesia yang beradab, religius, dan terus bergerak maju,” pungkasnya dengan semangat membara. (RN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *