DEPOK | Star7TV – Rumah di lingkungan RT 04 RW 06, masih berdiri di tempat yang sama. Penghuninya pun masih tinggal di dalamnya. Namun bagi satu keluarga di Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang kini terasa semakin jauh setelah satu-satunya akses menuju tempat tinggal mereka ditutup dengan tembok beton.
Ironisnya, pada pagi hari mereka masih beraktivitas seperti biasa. Keluar rumah, bekerja, dan menjalankan rutinitas tanpa hambatan. Namun hanya dalam hitungan jam, saat kembali pada Sabtu (30/5/2026) sekitar pukul 14.00 WIB, jalan yang selama ini mereka lalui telah berubah menjadi tembok yang tak lagi bisa dilewati.
“Masih pagi bisa lewat. Sekitar jam 11 siang kami juga masih keluar masuk rumah. Tetapi saat pulang sekitar jam 2 siang, aksesnya sudah ditutup dan ditembok,” ujar salah seorang anggota keluarga.
Bagi keluarga tersebut, persoalan ini bukan sekadar tembok yang berdiri di atas sebidang tanah. Yang hilang adalah akses untuk pulang ke rumah sendiri.
Mereka mengaku tidak pernah menerima pemberitahuan sebelumnya. Tidak ada dialog, tidak ada penjelasan, dan tidak ada kesempatan untuk mencari solusi bersama. Ketika kembali dari aktivitas sehari-hari, yang mereka temukan hanyalah jalan yang sudah tidak ada lagi.
Situasi itu membuat keluarga sempat kesulitan memasuki rumahnya sendiri. Dengan bantuan pengurus lingkungan, mereka akhirnya diperbolehkan melintas melalui kawasan Perumahan PGRI sebagai jalan alternatif sementara.
Namun solusi darurat tersebut belum menjawab persoalan utama. Sebab hingga kini belum ada kepastian mengenai akses permanen yang dapat digunakan untuk keluar masuk rumah.
Peristiwa ini menghadirkan ironi yang sulit diabaikan. Di tengah berbagai program pembangunan dan penataan wilayah perkotaan, masih ada warga yang harus mempertanyakan bagaimana cara pulang ke rumahnya sendiri.
Lebih dari itu, keluarga tersebut kini hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian. Bukan hanya soal aktivitas harian, tetapi juga soal keselamatan. Jika suatu saat ada anggota keluarga yang membutuhkan ambulans, jika terjadi kebakaran, atau keadaan darurat lainnya, akses menjadi persoalan yang tak bisa dianggap sepele.
Rumah pada hakikatnya adalah tempat paling aman bagi setiap orang. Namun ketika jalan menuju rumah tertutup, rasa aman itu perlahan berubah menjadi kecemasan.
Keluarga berharap pemerintah, mulai dari tingkat RT, RW, kelurahan, kecamatan hingga Pemerintah Kota Depok, dapat segera memfasilitasi dialog dan mencari solusi yang berkeadilan bagi semua pihak.
“Kami tidak mencari konflik. Kami hanya ingin bisa pulang ke rumah seperti biasa. Kami berharap ada jalan keluar yang baik untuk semua pihak,” kata warga.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak yang melakukan penutupan akses terkait alasan maupun dasar tindakan tersebut. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan.
Kasus ini menjadi potret bahwa bagi sebagian orang, persoalan terbesar bukanlah memiliki rumah atau tidak. Melainkan ketika rumah masih ada, tetapi jalan untuk mencapainya mendadak lenyap. Sebuah ironi yang kini tengah dirasakan oleh satu keluarga di Kota Depok. (RN)













