-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ekskavasi Hari ke 8 Gerbang Istana Bhre Wengker di Situs Kumitir Semakin Terlihat

Tuesday | September 14, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-09-14T12:24:36Z
Star7tv.com , Mojokerto – Hari ke 8 ekskavasi Situs Kumitir tahap ke 4 di tahun ke 3, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim mulai menampakkan tangga pintu gerbang yang diduga istana persinggahan Bhre Wengker.

Arkeolog BPCB Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, ekskavasi Situs Kumitir tahap ke 4 di bulan September yang ada di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto ini ditargetkan menampakkan jalur sisi barat dari bentangan yang sudah muncul di tahun 2020, untuk memperkuat interpretasi dinding keliling Situs yang memiliki luas 6,4 hektare.

“Hari ini kita sudah memasuki hari ke 8, dimana fokus dalam ekskavasi ini kita menampakkan jalur dinding sisi barat yang merupakan bagian depan dari benteng keliling situs kumitir yang kita diperkirakan seluas 6 hektare,” kata Wicaksono kepada wartawan, Selasa 14 September 2021.

Dinding sisi barat ini diduga kuat adalah pintu masuk atau gerbang istana yang diduga persinggahan Bhre Wengker, paman Raja Majapahit Hayam Wuruk. Hal itu diperkuat dengan adanya temuan bangunan berbentuk tangga yang mengarah ke barat pada bagian tengah gerbang.

“Kita sudah menampakkan bentangan dari sudut barat laut kemudian berlanjut ke arah selatan disana dibagian tengah ada gerbang dan diantara gerbang itu ada dinding yang membentang utara selatan. Kita menemukan indikasi ada tangga yang mengarah ke arah Barat. Dari yang kita temukan ini merupakan jejak bukti yang jelas bahwa memang ada suatu gerbang dan dinding keliling di situs kumitir yang interpretasinya merupakan istana dari Bhre Wengker dan Bhre Dhaha,” bebernya.

Pintu gerbang ke istana Bhre Wengker di Situs Kumitir, lanjut Wicaksono, diduga berbentuk dua tipe pintu gerbang, yakni tipe Paduraksa seperti Candi Bajangratu dan tipe Bentar seperti Candi Wringin Lawang di Trowulan, Mojokerto.

“Dan gerbang itu sendiri kita temukan sudah tidak dalam kondisi utuh, karena memang sebagian besar sudah runtuh dan dalam sejarahnya sudah diambil oleh masyarakat tahun 80-an. Kita sedang mempelajari bagaimana bentuknya dari bukti-bukti yang tersisa dari gerbang ini,” jelasnya.

Posisi gerbang tersebut lurus dengan sisa-sisa istana Bhre Wengker di sisi timur situs yang berdekatan dengan makam umum Dusun Bendo, Desa Kumitir. Situs Kumitir diperkirakan dikelilingi dinding setinggi 175-200 cm dengan tebal 170 cm seluas 316 x 203 meter persegi. Selain menemukan sebagian talud, tim ekskavasi BPCB Jatim juga menemukan dua pilar yang diduga pipih tangga pintu gerbang istana paman Raja Majapahit Hayam Wuruk.

“Ada dua pilar yang polanya kita menemukan adanya kesamaan antara sisi utara dan selatan. Itu mengindikasikan sebuah pintu gerbang, pilar-pilar ini kita duga pipih tangga yang jaraknya sampai 12 meter. Tapi untuk melihatnya kita membaca polanya, apakah bagian halaman itu cukup luas kemudian ada satu pintu besar atau tidak, seperti kori agung di Bali,” jelasnya.

BPCB Jatim berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Mojokerto membebaskan lahan Situs Kumitir untuk keperluan ekskavasi lanjutan setelah istana yang diduga persinggahan Bhre Wengker itu sudah mulai terlihat.

“Kesulitan kami terkait status lahan, karena diarea seluas 6 hektare ini sebagian besar masih milik masyarakat, sehingga tantangannya setelah ini nampak kemudian ke depan apakah kejelasan status lahan ini bisa diselesaikan apakah sewa atau kemudian dibebaskan,” kata Wicaksono.

BPCB Jatim menggelar ekskavasi tahap ke 4 di Situs Kumitir yang berlangsung selama 22 hari kerja dimulai dari tanggal 06 hingga 30 September 2021. Penggalian arkeologi ini ditargetkan bisa menampakkan pintu gerbang istana Bhre Wengker, paman Raja Majapahit Hayam Wuruk.

Bhre Wengker bergelar Wijayarajasa merupakan raja kecil atau raja negara bagian yang menjadi bawahan Raja Majapahit. Kala itu, Majapahit dipimpin Hayam Wuruk tahun 1350-1389 masehi. Bhre Wengker menikah dengan Bhre Dhaha yang bergelar Rajadewi Maharajasa.

Bhre Dhaha dan Tribuana Tunggadewi sama-sama putri Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. (Imam Mura/gan)


 


 


 






×
Berita Terbaru Update